Monday, October 1, 2012

Ketika Logika Haram Dimainkan, Ketika Hidup Tak Berhenti di Titik Kegagalan

 “Aku tuh udah ngelakuin semua yang aku mampu untuk bisa lulus. Aku udah membuang seluruh ego dan pride-ku untuk memohon-mohon kepada advisor-ku agar dia tuntas mendukung penelitian tesisku. Sampai panas kuping dan sakit hati tiap kali mendengar caci-maki ketidakpuasannya pun tabah kuterima. Tapi kenapa akhirnya aku gagal juga? Kenapa Allah me-.....”
-----
Protes itu benar-benar pernah kudengar dari mulut seorang teman yang mengalami ‘nasib’ setali tiga uang denganku; kandas lulus dari studi pascasarjana setelah jauh-jauh merantau ke negeri orang. Protes atas ‘ketidakadilan’ takdir yang digariskan oleh-Nya. Unjuk rasa atas taburan garam di luka menganga. Aku tahu, protes temanku itu lazim dilontarkan siapapun ketika kekecewaan bertunas, tentunya dalam konteks kehidupan masing-masing. Ketika usaha gila-gilaan yang dilakukan tak linear dengan hasil (yang didapatkan), saat anak panah yang dilepaskan tak akurat dan tak pula presisi tertancap pada area papan bidik, maka tak ayal, berbagai pertanyaan pun berloncatan di benak, mempertanyakan ketentuan-Nya.
Ada poin penting yang dapat kusimpulkan dari curcol temanku itu. ‘Logika tidak layak diperturutkan’. Kenapa? Karena tak semua hal/peristiwa dapat kita tarik logika keberhasilan/ketidakberhasilannya. Kehidupan seorang Muslim banyak beririsan dengan hal bernuansa metafisika-supernatural, kasat mata, dan tak dapat diindera, sehingga ketika ia memperturutkan logika, pasti pula sesatnya.
-----
Ketika mendapati orang yang dominasi jalan pikirannya melebihi nurani dan ketundukannya kepada sang Ilah, aku selalu mengucap syukur karena berwatak sebaliknya. Aku senantiasa merasakan kemudahan dalam menerima ketentuan-Nya. Tentu logikaku bermain, mengevaluasi setiap usaha dan kegigihanku dalam menuntaskan capaian. Berkontemplasi. “Adakah bagian dari effort-ku yang kurang/salah?”. Namun, tuas ‘acceptance’ dan ‘nrimo’-ku selalu otomatis bergeser ke 'on' di saat yang tepat, sebelum su’udzon kepada-Nya merajai hati, sebelum protes, “Kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini,” muncul di diri.
Ya, menurutku, tak layak bagi seorang manusia hina mengeluh atas cobaan yang diberikan penciptanya. Terlalu banyak nikmat Allah yang sudah manusia terima, sehingga cobaan tidak pantas dikalkulasi sebagai derita tak bertepi atau ekspresi sinis-Nya pada hamba-hamba yang dicipta. Bukankah Allah akan selalu mengirimkan ujian hidup hingga manusia bertaqwa? Hingga manusia dapat memetik pelajaran di baliknya? Hingga manusia mengakui kekerdilannya di hadapan-Nya? Jadi, terima saja ‘hadiah’ dari-Nya itu dengan berlapang dada, toh manusia memang harus ditempa agar level ketaqwaannya mencakrawala.
-----
Jujur, terkadang hatiku masih teriris sembilu ketika bersitumbuk dengan momen yang dapat melabuhkan ingatanku pada kegagalanku. Momen ketika aku bertemu dengan teman-teman yang menyetarakan ijazahnya, momen ketika aku menemukan print out CV ayahku yang memuat detail ‘pekerjaan’ anak-anaknya, atau momen ketika ibuku ditanyai para tetangga perihal kemunculanku yang ganjil di rumah. Bagiku, kesedihan itu merupakan ekspresi kekecewaan atas kegagalanku dalam memenuhi amanah ayah dan ibuku. Itu saja. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan luka hatiku; perasaan orang tuaku-lah yang selalu kupertimbangkan.
Source: http://tinyurl.com/9oq3pom
Satu hal yang pasti, aku masih berhutang pada kedua orang tuaku. Hutang janji untuk menuntaskan studi. Karena itu, sampai saat ini, aku masih berusaha membayar hutang itu dengan gigih melobi transfer kreditku ke salah satu kampus di tanah air.
Yes, pelajaran 'hidup' telah kuambil, kegagalan telah kumaknai sebagai awal dari perjuangan berikutnya, kesedihan telah kutransformasi menjadi energi untuk berlari. My new life has just begun!

#tulisan berbahasa Indonesia kelima

No comments: