“Aku tuh udah ngelakuin
semua yang aku mampu untuk bisa lulus. Aku udah membuang seluruh ego dan pride-ku untuk memohon-mohon kepada advisor-ku agar dia tuntas mendukung
penelitian tesisku. Sampai panas kuping dan sakit hati tiap kali mendengar caci-maki ketidakpuasannya pun tabah kuterima. Tapi
kenapa akhirnya aku gagal juga? Kenapa Allah me-.....”
-----
-----
Protes itu benar-benar pernah kudengar dari mulut seorang teman
yang mengalami ‘nasib’ setali tiga uang denganku; kandas lulus dari studi
pascasarjana setelah jauh-jauh merantau ke negeri orang. Protes atas
‘ketidakadilan’ takdir yang digariskan oleh-Nya. Unjuk rasa atas taburan garam di luka menganga. Aku tahu, protes temanku itu
lazim dilontarkan siapapun ketika kekecewaan bertunas, tentunya dalam konteks
kehidupan masing-masing. Ketika usaha gila-gilaan
yang dilakukan tak linear dengan hasil (yang didapatkan), saat anak panah yang
dilepaskan tak akurat dan tak pula presisi tertancap pada area papan bidik,
maka tak ayal, berbagai pertanyaan pun berloncatan di benak, mempertanyakan
ketentuan-Nya.
Ada poin penting yang dapat kusimpulkan dari curcol temanku itu. ‘Logika tidak layak diperturutkan’. Kenapa? Karena tak semua
hal/peristiwa dapat kita tarik logika keberhasilan/ketidakberhasilannya. Kehidupan
seorang Muslim banyak beririsan dengan hal bernuansa metafisika-supernatural, kasat mata,
dan tak dapat diindera, sehingga ketika ia memperturutkan logika, pasti pula
sesatnya.
-----
Ketika mendapati orang yang dominasi jalan pikirannya melebihi
nurani dan ketundukannya kepada sang Ilah, aku selalu mengucap syukur karena
berwatak sebaliknya. Aku senantiasa merasakan kemudahan dalam menerima
ketentuan-Nya. Tentu logikaku bermain, mengevaluasi setiap usaha dan
kegigihanku dalam menuntaskan capaian. Berkontemplasi. “Adakah bagian dari effort-ku yang kurang/salah?”. Namun,
tuas ‘acceptance’ dan ‘nrimo’-ku
selalu otomatis bergeser ke 'on' di saat yang tepat, sebelum su’udzon kepada-Nya
merajai hati, sebelum protes, “Kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini,”
muncul di diri.
Ya, menurutku, tak layak bagi seorang manusia hina mengeluh atas
cobaan yang diberikan penciptanya. Terlalu banyak nikmat Allah yang sudah
manusia terima, sehingga cobaan tidak pantas dikalkulasi sebagai derita tak
bertepi atau ekspresi sinis-Nya pada hamba-hamba yang dicipta. Bukankah Allah
akan selalu mengirimkan ujian hidup hingga manusia bertaqwa? Hingga manusia
dapat memetik pelajaran di baliknya? Hingga manusia mengakui kekerdilannya di
hadapan-Nya? Jadi, terima saja ‘hadiah’ dari-Nya itu dengan berlapang dada, toh
manusia memang harus ditempa agar level ketaqwaannya mencakrawala.
-----
Jujur, terkadang hatiku masih teriris sembilu ketika bersitumbuk
dengan momen yang dapat melabuhkan ingatanku pada kegagalanku. Momen ketika aku
bertemu dengan teman-teman yang menyetarakan ijazahnya, momen ketika aku menemukan
print out CV ayahku yang memuat
detail ‘pekerjaan’ anak-anaknya, atau momen ketika ibuku ditanyai para tetangga
perihal kemunculanku yang ganjil di rumah. Bagiku, kesedihan itu merupakan
ekspresi kekecewaan atas kegagalanku dalam memenuhi amanah ayah dan ibuku. Itu
saja. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan luka hatiku; perasaan orang
tuaku-lah yang selalu kupertimbangkan.
![]() |
| Source: http://tinyurl.com/9oq3pom |
Yes, pelajaran 'hidup'
telah kuambil, kegagalan telah kumaknai sebagai awal dari perjuangan
berikutnya, kesedihan telah kutransformasi menjadi energi untuk berlari. My new life has just begun!
#tulisan berbahasa Indonesia kelima

No comments:
Post a Comment