“Aku tuh udah ngelakuin
semua yang aku mampu untuk bisa lulus. Aku udah membuang seluruh ego dan pride-ku untuk memohon-mohon kepada advisor-ku agar dia tuntas mendukung
penelitian tesisku. Sampai panas kuping dan sakit hati tiap kali mendengar caci-maki ketidakpuasannya pun tabah kuterima. Tapi
kenapa akhirnya aku gagal juga? Kenapa Allah me-.....”
-----
-----
Protes itu benar-benar pernah kudengar dari mulut seorang teman
yang mengalami ‘nasib’ setali tiga uang denganku; kandas lulus dari studi
pascasarjana setelah jauh-jauh merantau ke negeri orang. Protes atas
‘ketidakadilan’ takdir yang digariskan oleh-Nya. Unjuk rasa atas taburan garam di luka menganga. Aku tahu, protes temanku itu
lazim dilontarkan siapapun ketika kekecewaan bertunas, tentunya dalam konteks
kehidupan masing-masing. Ketika usaha gila-gilaan
yang dilakukan tak linear dengan hasil (yang didapatkan), saat anak panah yang
dilepaskan tak akurat dan tak pula presisi tertancap pada area papan bidik,
maka tak ayal, berbagai pertanyaan pun berloncatan di benak, mempertanyakan
ketentuan-Nya.
Ada poin penting yang dapat kusimpulkan dari curcol temanku itu. ‘Logika tidak layak diperturutkan’. Kenapa? Karena tak semua
hal/peristiwa dapat kita tarik logika keberhasilan/ketidakberhasilannya. Kehidupan
seorang Muslim banyak beririsan dengan hal bernuansa metafisika-supernatural, kasat mata,
dan tak dapat diindera, sehingga ketika ia memperturutkan logika, pasti pula
sesatnya.
-----

