Nah, benar, kan? Belum apa-apa aku sudah kesasar. Setelah bertanya ke salah seorang petugas di stasiun, aku mendapatkan informasi bahwa ternyata untuk menuju ke UNS tidaklah rumit; both from “Solo Balapan” Station or “Solo-Jebres” Station will do. “Oooh, syukurlah nyasar kali ini tidak fatal”, ucapku lega. Karena ingin benar-benar ‘menikmati’ perjalanan a la traveler, aku menolak tawaran jemputan dari Iqbal. Oh please…aku (paling) tidak suka merepotkan orang lain. “Kalau bisa dijalani/dituntaskan sendiri, kenapa harus ngerepotin orang lain?”. “Kalau bisa memperingan dan mempermudah beban orang lain, kenapa tidak?”, that’s what I always thought. Jadilah aku memilih moda transportasi bus. For me, it’s more challenging than a pedicab. Yes, cukup membayar Rp. 2500,-, menikmati 15 menit perjalanan, dan gerbang melengkung UNS sudah tampak di kiri jalan. It’s stupidly easy.
Tak perlu lama menunggu di dekat gerbang, ‘asisten penjemputku’ datang. “Mbak Bunga ya. Halo, namaku juga Bunga”, ramah si adik memperkenalkan dirinya sambil tertawa demi mendapati kesamaan nama kami. Setelah shalat, Bunga mengajakku ke kantin yang berlokasi persis di samping masjid. Saat sedang menikmati makan siang, tiba-tiba terdengar suara, “Oh, jadi ini artis yang spesial didatangkan dari Taiwan untuk ngisi talkshow”. Ha..ha..ha! Ternyata ada Dimas, adik angkatanku di TPHP UGM yang sekarang sudah menjadi dosen di UNS. Setelah berbasa-basi sedikit dan saling meng-up-date kabar, dia berkata, “Mbak, UNS lagi bukaan lowongan dosen, lho. Kalau njenengan udah selesai kuliahnya, ndaftar aja. Nanti tak rekomendasikan”. Subhanallah…luar biasa sekali! Tawaran menarik yang langsung kuiyakan dengan “Insya Allah, De’…ntar saya hubungi ya”. By the way, Dimas mengira aku yang (tampak) sangat betah di Taiwan ini sedang studi S3. Ha! No wonder. Most people will think so, too.
Ya, setelah Dimas berlalu, aku segera teringat kembali dengan acaraku. Oh well…seperti biasa, janji mulai jam 15.30 adalah “sembulak*” belaka. Acara baru benar-benar dimulai jelang pukul 16.30. Masalahnya adalah, ppt file yang kusediakan memuat cukup banyak materi yang kuprediksikan selesai dalam waktu 40-60 menit. “Ouch, gimana nih cara ngebut ngomong tapi materi tetap ditangkap dengan baik oleh hadirin?”, agak panik aku menghitung waktu yang tersedia. Namun syukurlah semua lancar, walaupun dua slide terakhir yang memuat kesimpulan tidak berhasil kutuntaskan karena keterbatasan waktu.
Saat sesi tanya jawab, ternyata animo hadirin untuk bertanya sangat luar biasa; sampai moderator kewalahan menangani para penunjuk tangan. “Mbak, gimana caranya beradaptasi di Taiwan yang lingkungannya berbeda ekstrem dengan Indonesia?”. “Mbak, terus gimana kalau tiap hari harus begadangan ngerjain paper/tugas kuliah, apakah tidak akan mempengaruhi kesehatan tubuh kita?”. “Mbak, terus kalau kita menghadapi masalah di sana, ke mana harus mengadu dan meminta pertolongan?”. Xixixi, somehow, i felt ticklish whenever I recall their worrisome faces when they were asking those questions. “Yes, Adik-adik…kuliah di luar negeri itu tidak seindah yang kalian bayangkan”, ucapku geli di dalam hati.
Ya begitulah. Akhirnya, 10 menit sebelum adzan maghrib berkumandang, acara ditutup. Tiga buah souvenir khas Taiwan yang sudah kupersiapkan secara sukarela dari rumah untuk para penanya, ludes. Bahkan ketika acara sudah berakhir pun, masih ada saja adik-adik yang mengerumuniku untuk bertanya ini itu. Subhanallah, jadi begini ya rasanya menjadi ‘speaker’. Xixixi.
| Photo session usai acara |
Alhamdulillah, aku senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbagi sedikit pengalaman berorganisasi dan kuliahku dengan para hadirin. Until now, I still remember a jolt of excitement whenever my mind-and-soul teleported through time to that moment. Especially the awkward moment saat aku jujur berkata, “Saya ini aslinya berkarakter sangat pemalu lho, Adik-adik. Saya ga suka berdiri di depan publik dan ditatapi oleh orang-orang yang tidak saya kenal”. Sontak mereka memandangku dengan tatapan sangsi “oh-please-mbak-kalau-yang-begini-aja-pemalu-terus-yang-bawel-kayak-gimana-coba!”. Ha..ha..ha!
See? I MADE IT! Tidak ada hal yang musykil untuk dilakukan. Seriously, aku berharap mendapatkan lebih banyak kesempatan lagi untuk menambah ‘jam terbang’-ku dalam ber-public speaking.
Sehari setelahnya, 21 Juni 2012
Setelah mempertimbangkan dengan masak, aku memilih untuk menginap di Solo. Ya, karena kereta terakhir dari Solo ke Yogyakarta dijadwalkan berangkat pukul 18.30.Terlalu mepet dengan jadwal usainya acara. Sebenarnya untuk perjalanan malam, tersedia bus sebagai alternatif transportasi. Namun, perut dan hidungku yang picky dan sensitif ini kurang bersahabat dengan ‘bebauan’ khas bus. Jadi, menginap memang pilihan yang paling tepat.
Paginya, Twin, ‘asisten’-ku yang lain, dan teman-teman baiknya mengajakku berkeliling Solo. Jadilah aku ke Keraton Solo dan mencicipi kuliner khas Solo semacam ‘nasi liwet’ dan ‘serabi Notosuman’. Sayangnya aku harus melewatkan ‘Mie POCONG’ Solo yang super fenomenal itu; well…warungnya masih tutup saat kami ke sana. Sebenarnya masih banyak tempat yang ingin mereka tunjukkan padaku, namun waktu jualah yang memisahkan. Aku harus segera kembali ke Yogyakarta. Setelah berjanji untuk saling mengontak, akhirnya kami berpisah di Stasiun Jebres.
Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih atas kesempatan yang Kau berikan. Ya Allah, terima kasih atas nikmat extended ukhuwah yang Kau anugerahkan. Thank you, Allah~^^
*Bahasa Melayu Sambas yang berarti “hanya di bibir saja” a.k.a “gombal-gambil” alias “whew, geje!”.
#tulisan berbahasa Indonesia keempat
#tulisan berbahasa Indonesia keempat

2 comments:
waw mantap mb bunga,,,subhanallah
kapan ngisi lagi,,pengen liat..^^
Xixixi...let's see ntar, Ciw :)
Post a Comment