Dua minggu silam
“Mbak,
saya undang untuk ngisi talkshow di
Fakultas Pertanian UNS mau ya? Mbak Bunga masih di Indonesia, kan?”, begitu
kubaca pesan seseorang di inbox “Buku Muka”-ku. Kaget, -reaksi standarku saat
membaca pesan tak biasa tersebut. Merasa tertantang untuk menjinakkan “demam
panggung” dan sifat “malu-malu”-ku, tak sadar aku mengetikkan balasan “Okay,
De’!” kepada sang pengirim.
Sang
pengirim pesan itu tak lain dan tak bukan adalah Iqbal, adik Syarifah
(*Syarifah adalah nama asli “Ivo”, adik iparku). Iqbal adalah mahasiswa Ilmu
dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kami memang baru sekali
bersua, dua tahun yang lalu saat pernikahan adikku dan kakaknya. Namun karena
berlatar belakang keilmuan yang sama, kami segera akrab. Walaupun sempat
bertanya-tanya mengenai alasannya mengundangku, pada akhirnya aku tak ambil
pusing. Aku hanya curiga Iqbal mendapatkan banyak informasi tentangku dan
aktivitas-aktivitasku di Taiwan dari kakaknya. Intinya, Iqbal mengundangku untuk
berbagi pengalaman berorganisasi dan kuliah di negeri naga kecil kepada
teman-teman muslim Fakultas Pertanian UNS. Thereafter,
my Solo Escape’s episode, began.
-----
Seminggu silam, 20 Juni 2012
Kubaca lagi poster buatan Iqbal
yang tersimpan di ponsel (pintar)-ku. Acara talkshow
akan dilangsungkan pukul 15.30 di depan BEM FP UNS. Setelah mengantongi
informasi tentang waktu perjalanan dari Yogyakarta ke Solo yang berdurasi 1 jam
dengan kereta, aku yang alergi terlambat ini sudah sampai di Stasiun Tugu pukul
11.45. Just in case aku nyasar di
sana, masih ada banyak waktu untuk dicadangkan. “Mas, Jebres, satu orang”,
ujarku kepada pria di balik loket penjualan tiket. “Dua puluh ribu, Mbak”,
balasnya cepat sembari mengangsurkan tiket keretaku. 10 menit lagi kereta
Madiun Jaya ber-AC yang akan kutumpangi, dijadwalkan tiba. “Wow, on
time ya keretanya”, ucapku dalam hati ketika mendapati fakta bahwa
transportasi publik di tanah air tak seburuk dugaanku.
![]() |
| Kereta Bisnis Madiun Jaya |
![]() |
| Pintu keluar Stasiun Solo Balapan |
Pukul 13.00, kereta memasuki
stasiun “Solo Balapan”. Si Bapak yang hobi ngobrol itupun turun sambil
berpesan, “Satu stasiun setelah ini adalah Stasiun Jebres, Mbak”. Seusai
meng-oke-kan pesan beliau, aku duduk sembari menarik napas lega. Belum mulai talkshow saja, suaraku sudah hampir
hilang begini. Inilah efek samping jika diajak ngobrol ngalor-ngidul oleh orang
yang kurang bisa membaca situasi. Nah, dua menit kemudian, lampu penerang kereta
tiba-tiba mati. Beberapa detik setelahnya, muncul petugas berseragam “cleaning service KA” di ujung gerbong.
“Lho, ini gimana sih?”, protesku. Setelah bertanya kepada sang petugas ihwal
keanehan itu, aku sontak merasa malu. Ternyata, destinasi terakhir kereta
Madiun Jaya kelas bisnis ini adalah Stasiun Solo Balapan. Jebres, stasiun kecil
yang akan kutuju, rupanya hanya dilewati kereta ekonomi non-AC. Ha…ha…ha!
-----


2 comments:
Lha? Ngopo ra nunggang Pramex?
Eh, murahan banget sih Bapak e, 2 SKS 400K. Mending nganggo OJ. Hahahahahaha... =))
Lha embuh, aku langsung dinehi tiket Madiun Jaya karo mase sing jaga loket, Sun XD. Pekok yo berarti mase. Hahaha =))
Apa itu OJ? Ra reti aku~
Post a Comment