Wednesday, June 27, 2012

Solo Escape (part 1)


Dua minggu silam
“Mbak, saya undang untuk ngisi talkshow di Fakultas Pertanian UNS mau ya? Mbak Bunga masih di Indonesia, kan?”, begitu kubaca pesan seseorang di inbox “Buku Muka”-ku. Kaget, -reaksi standarku saat membaca pesan tak biasa tersebut. Merasa tertantang untuk menjinakkan “demam panggung” dan sifat “malu-malu”-ku, tak sadar aku mengetikkan balasan “Okay, De’!” kepada sang pengirim.
Sang pengirim pesan itu tak lain dan tak bukan adalah Iqbal, adik Syarifah (*Syarifah adalah nama asli “Ivo”, adik iparku). Iqbal adalah mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kami memang baru sekali bersua, dua tahun yang lalu saat pernikahan adikku dan kakaknya. Namun karena berlatar belakang keilmuan yang sama, kami segera akrab. Walaupun sempat bertanya-tanya mengenai alasannya mengundangku, pada akhirnya aku tak ambil pusing. Aku hanya curiga Iqbal mendapatkan banyak informasi tentangku dan aktivitas-aktivitasku di Taiwan dari kakaknya. Intinya, Iqbal mengundangku untuk berbagi pengalaman berorganisasi dan kuliah di negeri naga kecil kepada teman-teman muslim Fakultas Pertanian UNS. Thereafter, my Solo Escape’s episode, began.
-----

Seminggu silam, 20 Juni 2012
         Kubaca lagi poster buatan Iqbal yang tersimpan di ponsel (pintar)-ku. Acara talkshow akan dilangsungkan pukul 15.30 di depan BEM FP UNS. Setelah mengantongi informasi tentang waktu perjalanan dari Yogyakarta ke Solo yang berdurasi 1 jam dengan kereta, aku yang alergi terlambat ini sudah sampai di Stasiun Tugu pukul 11.45. Just in case aku nyasar di sana, masih ada banyak waktu untuk dicadangkan. “Mas, Jebres, satu orang”, ujarku kepada pria di balik loket penjualan tiket. “Dua puluh ribu, Mbak”, balasnya cepat sembari mengangsurkan tiket keretaku. 10 menit lagi kereta Madiun Jaya ber-AC yang akan kutumpangi, dijadwalkan tiba. “Wow, on time ya keretanya”, ucapku dalam hati ketika mendapati fakta bahwa transportasi publik di tanah air tak seburuk dugaanku.
Kereta Bisnis Madiun Jaya
   Jujur, ini adalah pengalaman perdanaku menumpang kereta antarkota di Yogyakarta. Boleh dibilang reaksiku agak “ndeso” ketika melihat si Madiun Jaya yang ternyata “ga jelek-jelek amat”. Baru dua menit duduk, muncul seorang pria paruh baya yang langsung menyapa “Assalaamu’alaikum”. Sejak salam itu, dia tidak berhenti bercerita dan bertanya ini-itu sepanjang 59 menit perjalanan kami. “Oh, jadi Mbaknya mau ke UNS ya? Acara apa? Di fakultas mana?”, berondongnya tanpa ampun di paruh perjalanan. “Talkshow, Pak. Di Fakultas Pertanian”, jawabku ABC (Accurate Brief and Clear). “Oh, jam berapa talkshow-nya?”, burunya lagi. “Jam 15.30-17.30”, balasku. “Wah, dua SKS itu. Fee-nya minimal 400 ribu, Mbak”, candanya. “Oh..gitu ya, Pak”, responku biasa. Dua minggu yang lalu Iqbal sempat bertanya, “Mbak, fee-nya berapa?”. Aku yang merasa tidak memiliki kompetensi apapun, segera membalas, “Ga usah pakai fee-fee-an, De’. Tolong kirimi saya TOR acaranya aja”. Ya, selain alasan tak berkompeten itu, aku juga sangat memahami bahwa acara mahasiswa yang diselenggarakan juga oleh organisasi mahasiswa ini tidak pantas dibebani sejumlah nominal uang. Aku mafhum kondisi keuangan sebagian besar organisasi mahasiswa yang sering “morat-marit”. Moreover, dari awal aku sudah meniatkan diri untuk mengisi acara demi mengasah skill public speaking-ku yang masih minus ini. That’s it.
Pintu keluar Stasiun Solo Balapan
       Pukul 13.00, kereta memasuki stasiun “Solo Balapan”. Si Bapak yang hobi ngobrol itupun turun sambil berpesan, “Satu stasiun setelah ini adalah Stasiun Jebres, Mbak”. Seusai meng-oke-kan pesan beliau, aku duduk sembari menarik napas lega. Belum mulai talkshow saja, suaraku sudah hampir hilang begini. Inilah efek samping jika diajak ngobrol ngalor-ngidul oleh orang yang kurang bisa membaca situasi. Nah, dua menit kemudian, lampu penerang kereta tiba-tiba mati. Beberapa detik setelahnya, muncul petugas berseragam “cleaning service KA” di ujung gerbong. “Lho, ini gimana sih?”, protesku. Setelah bertanya kepada sang petugas ihwal keanehan itu, aku sontak merasa malu. Ternyata, destinasi terakhir kereta Madiun Jaya kelas bisnis ini adalah Stasiun Solo Balapan. Jebres, stasiun kecil yang akan kutuju, rupanya hanya dilewati kereta ekonomi non-AC. Ha…ha…ha!
-----

2 comments:

sunett said...

Lha? Ngopo ra nunggang Pramex?
Eh, murahan banget sih Bapak e, 2 SKS 400K. Mending nganggo OJ. Hahahahahaha... =))

bung2 said...

Lha embuh, aku langsung dinehi tiket Madiun Jaya karo mase sing jaga loket, Sun XD. Pekok yo berarti mase. Hahaha =))

Apa itu OJ? Ra reti aku~