Nak, tolong browsing-in Papa "filosofische grondslag; landasan/dasar negara". Itu tulisannya yang benar pakai “f” atau “ph”?
Nak, gimana cara baca “Deustchland über alles”? (*He asked me because I was learning German during my first college year. And he always wants to make sure that everything he said to others; either to his students or colleagues, or else, is the correct one)
Nak, apa bahasa Arabnya “kagum” as in kalimat "mysterium tremendum et fascinans"-nya Rudolf Otto. Coba cari di internet.
Mbak, bahasa Inggrisnya “ingus” dan “upil” apaan sih?
Mbak, gimana spelling “collection”, “c” atau “l”nya yang dobel?
Mbak, ini gimana sih soal “limit”. Kok jawaban hitunganku sama contoh soalnya beda banget ya?
Pertanyaan-pertanyaan seremeh “upil” ataupun “ingus” dalam
bahasa Inggris sampai seberat “limit dan derivat” seperti pada contoh di atas
adalah konsumsi harianku di rumah. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa jadi
berlanjut ke gelak tawa sontakku, ledekan khas keluarga, diskusi seru, atau
eksplanasi ayahku pada materi kuliah atau kajian yang sedang diketiknya.
Begitulah suasana harian di rumahku. Itu belum apa-apa. Suasana akan bertambah
hangat ketika keluarga muda itu bergabung. Ya, keluarga kecil adikku. Gema,
Ivo, dan si kecil Shofiya yang sedang heboh membeo dan berceloteh. Seru. Rame.
Hidup.
Ketika aku sedang “menjajah” rumah salah seorang sahabatku,
dia bertanya, “Di rumahmu heboh ga sih atmosfernya? Kalau di rumahku ya begini.
Sepi. Semua ngomong seperlunya aja.” Well,
sepertinya paradigma “seperlunya aja” di keluargaku agak berbeda dengan
keluarga sahabatku itu. Semenjak aku kecil, ayahku selalu menekankan urgensi
komunikasi padaku dan adik-adikku (*dan ibuku, tentu saja). Semua harus
dikomunikasikan dengan jelas, dengan tujuan yang sama jelasnya, yaitu menghindari
kesalahpahaman. Pada tataran selanjutnya, komunikasi dengan bahasa yang sopan menjadi sangat esensial
untuk mengikat hati-hati kami dan meningkatkan level kepahaman kami, satu sama
lain. Nah, latar belakangku yang seperti itulah yang membuatku sering merasa
“tersakiti” ketika aku nyemplung di dunia keorganisasian; menantang
diriku untuk berkompromi dengan variasi pribadi manusia. Bagiku, terhantam
tembok “miscommunication” sama pilunya dengan cobaan jauh dari keluarga.
Ya, namun itulah. Seiring dengan berjalannya waktu, seiring
dengan turunnya threshold sensi-ku, seiring dengan
meningkatnya level kompromiku pada pribadi macam apapun dan situasi seperti
apapun, aku merasakan kelapangan hati dan kejernihan pikir yang lebih. Aku
merasakan sesuatu yang di buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”-nya Salim A.
Fillah digores dengan istilah “celupan warna Ilahi”. “Celupan warna dengan
citarasa Ilahi yang Maha Tinggi”, begitu sang penulis menjelaskan makna “sibghah Allah” yang termaktub dalam
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 138.
I couldn’t help but feeling very grateful to Allah for all
those things. Pada level kontemplasi di sepertiga malam, air mataku bisa
menganak sungai demi mengekspresikan kesyukuranku kepada-Nya. Maka nikmat
Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Terima kasih
atas nikmat hangatnya keluarga yang selalu Engkau berikan. Terima kasih atas sibghah indah-Mu pada hamba. Terima kasih, ya
Allah~
#tulisan berbahasa Indonesia kedua
No comments:
Post a Comment