- Jadi ya, Nge’…si F itu adalah pria idaman dulu di SMP kami. Ganteng, primus (pria musholla), pandai. Wes…pokokmen jos-gandhos dan sangat prospektif dijadikan suami di masa datang! --> zaman SMP udah mikirin prospek-prospek beginian. BLOODY AWESOME =))!
- Tapi kenapa kesudahannya dia menikahi si R? Wanita yang sebelumnya sudah menikah sirri dengan si A dan sangat tidak “berkualitas” secara agama? Okay, si R memang enak dilihat ya. Tapi selain itu, blas ra mutu!
- Terus, kamu ingat si T, teman kita zaman S1? Gadis labil yang sering pakai-lepas kerudung geje itu? Aku baru tahu bahwa ternyata si A, lagi-lagi pria model si F yang sangat most-wanted di SMU-ku, menikahi si T! Hello, ada apa dengan pria-pria itu? Bukankah di Qur’an jelas-jelas tersurat “pria baik-baik itu untuk wanita baik-baik, vice versa”?
Percakapan “ringan” dengan sahabat-sahabatku itu tidak bisa tidak mengendap juga di benakku. Beberapa saat yang lalu, aku sempat membaca bahasan serupa terkait kandungan Q.S An-Nuur: 26 itu di Dakwatuna [ini]. Sejujurnya, aku juga “sebingung” salah seorang sahabatku (*yang sangat serius mengontemplasikan redaksional ayat tersebut) dalam menyimpulkan artikel bergaya bahasa non-ABC (Accurate Brief Clear) alias “muter-muter” itu. Namun, ini yang aku suka dari “kehidupan” seorang Muslim yang berniat tulus untuk belajar; Allah mudahkan untuk menemukan jawaban dan menyibak tabir keruhnya informasi. Allah itu extremely swag, bukan^^?!
Singkat kata, ketika sedang khusyuk membaca “Saatnya untuk Menikah”-nya Mohammad Fauzil Adhim, aku menemukan pencerahan. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk menyarikan tulisan Ustadz Fauzil Adhim, namun ternyata isinya terlalu berbobot untuk dipangkas, sehingga aku berakhir mengetikkan kata demi kata yang tertoreh di bab ketiga buku beliau. Okay, honestly, tidak literally “kata demi kata di keseluruhan bab tiga”, namun poin-poin penting yang terkait dengan bahasan dengan sahabat-sahabatku. Semoga sang penulis tidak keberatan tulisannya dinukil seperti ini. Semoga Anda yang “nyasar” di blog ini atau simply senang mengintip blog ini =p, malah semakin penasaran dengan isi buku keren beliau sehingga segera memutuskan untuk membelinya; instead of mencari e-book gratisnya di dunia maya. Okay, here it is:
Seluruh firman Allah dalam Al-Qur’an sudah pasti kebenarannya dan tidak mungkin terdapat kesalahan di dalamnya. Apabila ada hal-hal yang dirasakan agak berbeda dengan firman Allah pada ayat tertentu, kita perlu menengok kemungkinan-kemungkinan lain berdasarkan nash lain yang mengaturnya, termasuk perkecualian-perkecualian yang ada serta memperhatikan prinsip-prinsip agama.
Terkadang, salah seorang di antara kita terlalu meninggikan kriteria. Ia menyempitkan hal yang tidak diluaskan Allah, menyulitkan hal yang telah dimudahkan Allah, membatasi hal yang telah dilapangkan Allah sehingga ia menemui kesulitan. Sebagian kemudian berputus asa setelah lama tidak mendapatkan yang sesuai dengan kriterianya, sementara usia telah menua dan panggilan jiwa untuk segera menimang-nimang putra tercinta telah demikian mendesak. Akhirnya, justru ia merelakan diri untuk menikah dengan laki-laki yang tidak lebih baik dibanding peminang-peminang sebelumnya. Akhirnya, ia menikah dengan laki-laki yang justru sangat jauh dari kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
- Yang Tampak dan Yang Tersembunyi
Seperti halnya mata kita yang sering tidak sanggup melihat yang sebenarnya di balik yang tampak, anggapan kita terhadap mereka yang kita anggap “tidak sepadan”, boleh jadi juga sepenuhnya salah. Kita mempertanyakan mengapa ada wanita yang baik-baik mendapatkan suami yang keji, padahal Allah menjanjikan wanita yang baik bagi laki-laki yang baik. Kita juga mempertanyakan mengapa ada lelaki yang baik dan lurus agamanya, justru mendapatkan istri yang judesnya “setengah mati”. Kita mempertanyakan kebenaran janji Allah, tetapi lupa barangkali mata wadag kita tidak sanggup melihat di balik yang tampak. Yang kelihatannya tidak sebanding, boleh jadi sesungguhnya benar-benar setara nilainya di hadapan Allah, sehingga tidak ada yang meleset dari janji Allah.
- Laki-Laki yang Baik dengan Wanita Pezina
Note: Yang ini agak rumit, jadi lebih baik baca sendiri XD
- Terkadang, Itu Sebagai Ujian
Boleh jadi, apa yang tampaknya tidak sepadan, tidak kufu itu merupakan ujian yang apabila kita lulus, kita memperoleh derajat di sisi-Nya.
#tulisan berbahasa Indonesia ketiga
No comments:
Post a Comment