Wednesday, June 27, 2012

Solo Escape (part 1)


Dua minggu silam
“Mbak, saya undang untuk ngisi talkshow di Fakultas Pertanian UNS mau ya? Mbak Bunga masih di Indonesia, kan?”, begitu kubaca pesan seseorang di inbox “Buku Muka”-ku. Kaget, -reaksi standarku saat membaca pesan tak biasa tersebut. Merasa tertantang untuk menjinakkan “demam panggung” dan sifat “malu-malu”-ku, tak sadar aku mengetikkan balasan “Okay, De’!” kepada sang pengirim.
Sang pengirim pesan itu tak lain dan tak bukan adalah Iqbal, adik Syarifah (*Syarifah adalah nama asli “Ivo”, adik iparku). Iqbal adalah mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kami memang baru sekali bersua, dua tahun yang lalu saat pernikahan adikku dan kakaknya. Namun karena berlatar belakang keilmuan yang sama, kami segera akrab. Walaupun sempat bertanya-tanya mengenai alasannya mengundangku, pada akhirnya aku tak ambil pusing. Aku hanya curiga Iqbal mendapatkan banyak informasi tentangku dan aktivitas-aktivitasku di Taiwan dari kakaknya. Intinya, Iqbal mengundangku untuk berbagi pengalaman berorganisasi dan kuliah di negeri naga kecil kepada teman-teman muslim Fakultas Pertanian UNS. Thereafter, my Solo Escape’s episode, began.
-----

Friday, June 15, 2012

Salahkah?

  • Jadi ya, Nge’…si F itu adalah pria idaman dulu di SMP kami. Ganteng, primus (pria musholla), pandai. Wes…pokokmen jos-gandhos dan sangat prospektif dijadikan suami di masa datang! --> zaman SMP udah mikirin prospek-prospek beginian. BLOODY AWESOME =))! 
  • Tapi kenapa kesudahannya dia menikahi si R? Wanita yang sebelumnya sudah menikah sirri dengan si A dan sangat tidak “berkualitas” secara agama? Okay, si R memang enak dilihat ya. Tapi selain itu, blas ra mutu!
  • Terus, kamu ingat si T, teman kita zaman S1? Gadis labil yang sering pakai-lepas kerudung geje itu? Aku baru tahu bahwa ternyata si A, lagi-lagi pria model si F yang sangat most-wanted di SMU-ku, menikahi si T! Hello, ada apa dengan pria-pria itu? Bukankah di Qur’an jelas-jelas tersurat “pria baik-baik itu untuk wanita baik-baik, vice versa”?
Percakapan “ringan” dengan sahabat-sahabatku itu tidak bisa tidak mengendap juga di benakku. Beberapa saat yang lalu, aku sempat membaca bahasan serupa terkait kandungan Q.S An-Nuur: 26 itu di Dakwatuna [ini]. Sejujurnya, aku juga “sebingung” salah seorang sahabatku (*yang sangat serius mengontemplasikan redaksional ayat tersebut) dalam menyimpulkan artikel bergaya bahasa non-ABC (Accurate Brief Clear) alias “muter-muter” itu. Namun, ini yang aku suka dari “kehidupan” seorang Muslim yang berniat tulus untuk belajar; Allah mudahkan untuk menemukan jawaban dan menyibak tabir keruhnya informasi. Allah itu extremely swag, bukan^^?!

Wednesday, June 13, 2012

You Are All My Number One!

Nak, tolong browsing-in Papa "filosofische grondslag; landasan/dasar negara". Itu tulisannya yang benar pakai “f” atau “ph”?
Nak, gimana cara baca “Deustchland über alles”? (*He asked me because I was learning German during my first college year. And he always wants to make sure that everything he said to others; either to his students or colleagues, or else, is the correct one)
Nak, apa bahasa Arabnya “kagum” as in kalimat "mysterium tremendum et fascinans"-nya Rudolf Otto. Coba cari di internet.
Mbak, bahasa Inggrisnya “ingus” dan “upil” apaan sih?
Mbak, gimana spelling “collection”, “c” atau “l”nya yang dobel?
Mbak, ini gimana sih soal “limit”. Kok jawaban hitunganku sama contoh soalnya beda banget ya?
Pertanyaan-pertanyaan seremeh “upil” ataupun “ingus” dalam bahasa Inggris sampai seberat “limit dan derivat” seperti pada contoh di atas adalah konsumsi harianku di rumah. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa jadi berlanjut ke gelak tawa sontakku, ledekan khas keluarga, diskusi seru, atau eksplanasi ayahku pada materi kuliah atau kajian yang sedang diketiknya. Begitulah suasana harian di rumahku. Itu belum apa-apa. Suasana akan bertambah hangat ketika keluarga muda itu bergabung. Ya, keluarga kecil adikku. Gema, Ivo, dan si kecil Shofiya yang sedang heboh membeo dan berceloteh. Seru. Rame. Hidup.

Sunday, June 10, 2012

Shine...You Are!

Ada yang salah dengan pemaknaannya terhadap “amanah”. Ada yang perlu dia poles pada level fundamental tarbiyah dzatiyahnya. Ada niat yang harus dia luruskan ketika meng-iya-kan “qarar” amanah dari sang qiyadah.

How could you flatly receive “that burden” without understanding the whole consequences? Izinkan saya untuk mentranslasikan kata “amanah” sebagai “burden”, -beban. Alasannya? Saya ingin menegasikan makna “tanggung jawab” yang tersirat pada kata “amanah”. Tujuannya? Membidik penerimaan “dia” terhadap kata “amanah”. Ya, mana mungkin dia menganggap amanah da’wahnya sebagai tanggung jawab moral dan akhirat jika dia berat hati melangkah? Bahkan jika dia masih berkutat di dimensi sesepele “bingung mau ngerjain tugas kuliah atau amanah dulu”. Kalau begitu, perlu seseorang untuk “menamparnya” dengan teguran berselubung ukhuwah. Demi kemaslahatan.

Tuesday, June 5, 2012

Life Couldn't Be Better Than This

Source : http://tinyurl.com/7cuyr8p
Oh yeah...it's been nearly three weeks (*two weeks if I excluded my "jet lag" phase =p) since my homecoming. So, how's life? The answer is none other than L.G! Life's G.O.O.D~ :D! Alhamdulillah~

Today, -just like the other days-, I came to Islamic lecture in Masjid Kampus UGM. The sadly rather short discussion session with Ust. Syatori came to a sort of philosophical conclusion, -which was a nice one :). Here it is, ""GRACE" or "FAVORS" in something are the real treasures for someone who missed or couldn't get that particular thing". "Nikmat (terhadap sesuatu) akan terasa ketika (sesuatu itu) TIDAK ADA". Okay, let me give a ridiculously simple example. MASJEED. In Taiwan, there are only six masjeeds which are obviously located in some major cities. And guess what, there's no masjeed in Chiayi, -the sort-of-rural place I'm staying. Hence, I couldn't help but missed masjeed's atmosphere (*and things going on inside the masjeed, for sure) so much. This is what Ust. Syatori called "NIKMAT". So, once you get the real masjeed's atmosphere (*in my case is during my homecoming), it feels awesomely priceless! To be concluded, the inexistence of something for someone caused a particular longing feeling for it. If then later in the future we can manage to get it and feel grateful for that, we'll realize that it's A PRIMO. VALUABLE.