Showing posts with label tulisan berbahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label tulisan berbahasa Indonesia. Show all posts

Monday, October 1, 2012

Ketika Logika Haram Dimainkan, Ketika Hidup Tak Berhenti di Titik Kegagalan

 “Aku tuh udah ngelakuin semua yang aku mampu untuk bisa lulus. Aku udah membuang seluruh ego dan pride-ku untuk memohon-mohon kepada advisor-ku agar dia tuntas mendukung penelitian tesisku. Sampai panas kuping dan sakit hati tiap kali mendengar caci-maki ketidakpuasannya pun tabah kuterima. Tapi kenapa akhirnya aku gagal juga? Kenapa Allah me-.....”
-----
Protes itu benar-benar pernah kudengar dari mulut seorang teman yang mengalami ‘nasib’ setali tiga uang denganku; kandas lulus dari studi pascasarjana setelah jauh-jauh merantau ke negeri orang. Protes atas ‘ketidakadilan’ takdir yang digariskan oleh-Nya. Unjuk rasa atas taburan garam di luka menganga. Aku tahu, protes temanku itu lazim dilontarkan siapapun ketika kekecewaan bertunas, tentunya dalam konteks kehidupan masing-masing. Ketika usaha gila-gilaan yang dilakukan tak linear dengan hasil (yang didapatkan), saat anak panah yang dilepaskan tak akurat dan tak pula presisi tertancap pada area papan bidik, maka tak ayal, berbagai pertanyaan pun berloncatan di benak, mempertanyakan ketentuan-Nya.
Ada poin penting yang dapat kusimpulkan dari curcol temanku itu. ‘Logika tidak layak diperturutkan’. Kenapa? Karena tak semua hal/peristiwa dapat kita tarik logika keberhasilan/ketidakberhasilannya. Kehidupan seorang Muslim banyak beririsan dengan hal bernuansa metafisika-supernatural, kasat mata, dan tak dapat diindera, sehingga ketika ia memperturutkan logika, pasti pula sesatnya.
-----

Friday, July 6, 2012

Solo Escape (part 2)

Nah, benar, kan? Belum apa-apa aku sudah kesasar. Setelah bertanya ke salah seorang petugas di stasiun, aku mendapatkan informasi bahwa ternyata untuk menuju ke UNS tidaklah rumit; both from “Solo Balapan” Station or “Solo-Jebres” Station will do. “Oooh, syukurlah nyasar kali ini tidak fatal”, ucapku lega. Karena ingin benar-benar ‘menikmati’ perjalanan a la traveler, aku menolak tawaran jemputan dari Iqbal. Oh please…aku (paling) tidak suka merepotkan orang lain. “Kalau bisa dijalani/dituntaskan sendiri, kenapa harus ngerepotin orang lain?”. “Kalau bisa memperingan dan mempermudah beban orang lain, kenapa tidak?”, that’s what I always thought. Jadilah aku memilih moda transportasi bus. For me, it’s more challenging than a pedicab. Yes, cukup membayar Rp. 2500,-, menikmati 15 menit perjalanan, dan gerbang melengkung UNS sudah tampak di kiri jalan. It’s stupidly easy.

Wednesday, June 27, 2012

Solo Escape (part 1)


Dua minggu silam
“Mbak, saya undang untuk ngisi talkshow di Fakultas Pertanian UNS mau ya? Mbak Bunga masih di Indonesia, kan?”, begitu kubaca pesan seseorang di inbox “Buku Muka”-ku. Kaget, -reaksi standarku saat membaca pesan tak biasa tersebut. Merasa tertantang untuk menjinakkan “demam panggung” dan sifat “malu-malu”-ku, tak sadar aku mengetikkan balasan “Okay, De’!” kepada sang pengirim.
Sang pengirim pesan itu tak lain dan tak bukan adalah Iqbal, adik Syarifah (*Syarifah adalah nama asli “Ivo”, adik iparku). Iqbal adalah mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kami memang baru sekali bersua, dua tahun yang lalu saat pernikahan adikku dan kakaknya. Namun karena berlatar belakang keilmuan yang sama, kami segera akrab. Walaupun sempat bertanya-tanya mengenai alasannya mengundangku, pada akhirnya aku tak ambil pusing. Aku hanya curiga Iqbal mendapatkan banyak informasi tentangku dan aktivitas-aktivitasku di Taiwan dari kakaknya. Intinya, Iqbal mengundangku untuk berbagi pengalaman berorganisasi dan kuliah di negeri naga kecil kepada teman-teman muslim Fakultas Pertanian UNS. Thereafter, my Solo Escape’s episode, began.
-----

Friday, June 15, 2012

Salahkah?

  • Jadi ya, Nge’…si F itu adalah pria idaman dulu di SMP kami. Ganteng, primus (pria musholla), pandai. Wes…pokokmen jos-gandhos dan sangat prospektif dijadikan suami di masa datang! --> zaman SMP udah mikirin prospek-prospek beginian. BLOODY AWESOME =))! 
  • Tapi kenapa kesudahannya dia menikahi si R? Wanita yang sebelumnya sudah menikah sirri dengan si A dan sangat tidak “berkualitas” secara agama? Okay, si R memang enak dilihat ya. Tapi selain itu, blas ra mutu!
  • Terus, kamu ingat si T, teman kita zaman S1? Gadis labil yang sering pakai-lepas kerudung geje itu? Aku baru tahu bahwa ternyata si A, lagi-lagi pria model si F yang sangat most-wanted di SMU-ku, menikahi si T! Hello, ada apa dengan pria-pria itu? Bukankah di Qur’an jelas-jelas tersurat “pria baik-baik itu untuk wanita baik-baik, vice versa”?
Percakapan “ringan” dengan sahabat-sahabatku itu tidak bisa tidak mengendap juga di benakku. Beberapa saat yang lalu, aku sempat membaca bahasan serupa terkait kandungan Q.S An-Nuur: 26 itu di Dakwatuna [ini]. Sejujurnya, aku juga “sebingung” salah seorang sahabatku (*yang sangat serius mengontemplasikan redaksional ayat tersebut) dalam menyimpulkan artikel bergaya bahasa non-ABC (Accurate Brief Clear) alias “muter-muter” itu. Namun, ini yang aku suka dari “kehidupan” seorang Muslim yang berniat tulus untuk belajar; Allah mudahkan untuk menemukan jawaban dan menyibak tabir keruhnya informasi. Allah itu extremely swag, bukan^^?!

Wednesday, June 13, 2012

You Are All My Number One!

Nak, tolong browsing-in Papa "filosofische grondslag; landasan/dasar negara". Itu tulisannya yang benar pakai “f” atau “ph”?
Nak, gimana cara baca “Deustchland über alles”? (*He asked me because I was learning German during my first college year. And he always wants to make sure that everything he said to others; either to his students or colleagues, or else, is the correct one)
Nak, apa bahasa Arabnya “kagum” as in kalimat "mysterium tremendum et fascinans"-nya Rudolf Otto. Coba cari di internet.
Mbak, bahasa Inggrisnya “ingus” dan “upil” apaan sih?
Mbak, gimana spelling “collection”, “c” atau “l”nya yang dobel?
Mbak, ini gimana sih soal “limit”. Kok jawaban hitunganku sama contoh soalnya beda banget ya?
Pertanyaan-pertanyaan seremeh “upil” ataupun “ingus” dalam bahasa Inggris sampai seberat “limit dan derivat” seperti pada contoh di atas adalah konsumsi harianku di rumah. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa jadi berlanjut ke gelak tawa sontakku, ledekan khas keluarga, diskusi seru, atau eksplanasi ayahku pada materi kuliah atau kajian yang sedang diketiknya. Begitulah suasana harian di rumahku. Itu belum apa-apa. Suasana akan bertambah hangat ketika keluarga muda itu bergabung. Ya, keluarga kecil adikku. Gema, Ivo, dan si kecil Shofiya yang sedang heboh membeo dan berceloteh. Seru. Rame. Hidup.

Sunday, June 10, 2012

Shine...You Are!

Ada yang salah dengan pemaknaannya terhadap “amanah”. Ada yang perlu dia poles pada level fundamental tarbiyah dzatiyahnya. Ada niat yang harus dia luruskan ketika meng-iya-kan “qarar” amanah dari sang qiyadah.

How could you flatly receive “that burden” without understanding the whole consequences? Izinkan saya untuk mentranslasikan kata “amanah” sebagai “burden”, -beban. Alasannya? Saya ingin menegasikan makna “tanggung jawab” yang tersirat pada kata “amanah”. Tujuannya? Membidik penerimaan “dia” terhadap kata “amanah”. Ya, mana mungkin dia menganggap amanah da’wahnya sebagai tanggung jawab moral dan akhirat jika dia berat hati melangkah? Bahkan jika dia masih berkutat di dimensi sesepele “bingung mau ngerjain tugas kuliah atau amanah dulu”. Kalau begitu, perlu seseorang untuk “menamparnya” dengan teguran berselubung ukhuwah. Demi kemaslahatan.