Monday, October 1, 2012

Ketika Logika Haram Dimainkan, Ketika Hidup Tak Berhenti di Titik Kegagalan

 “Aku tuh udah ngelakuin semua yang aku mampu untuk bisa lulus. Aku udah membuang seluruh ego dan pride-ku untuk memohon-mohon kepada advisor-ku agar dia tuntas mendukung penelitian tesisku. Sampai panas kuping dan sakit hati tiap kali mendengar caci-maki ketidakpuasannya pun tabah kuterima. Tapi kenapa akhirnya aku gagal juga? Kenapa Allah me-.....”
-----
Protes itu benar-benar pernah kudengar dari mulut seorang teman yang mengalami ‘nasib’ setali tiga uang denganku; kandas lulus dari studi pascasarjana setelah jauh-jauh merantau ke negeri orang. Protes atas ‘ketidakadilan’ takdir yang digariskan oleh-Nya. Unjuk rasa atas taburan garam di luka menganga. Aku tahu, protes temanku itu lazim dilontarkan siapapun ketika kekecewaan bertunas, tentunya dalam konteks kehidupan masing-masing. Ketika usaha gila-gilaan yang dilakukan tak linear dengan hasil (yang didapatkan), saat anak panah yang dilepaskan tak akurat dan tak pula presisi tertancap pada area papan bidik, maka tak ayal, berbagai pertanyaan pun berloncatan di benak, mempertanyakan ketentuan-Nya.
Ada poin penting yang dapat kusimpulkan dari curcol temanku itu. ‘Logika tidak layak diperturutkan’. Kenapa? Karena tak semua hal/peristiwa dapat kita tarik logika keberhasilan/ketidakberhasilannya. Kehidupan seorang Muslim banyak beririsan dengan hal bernuansa metafisika-supernatural, kasat mata, dan tak dapat diindera, sehingga ketika ia memperturutkan logika, pasti pula sesatnya.
-----

Thursday, September 27, 2012

Bogor Adventures (part 2)

[Personal snapshot. Simply edited with PicsArt]
I knew from the start that my transfer to IPB wouldn't going to be done in a mere two or three times visit. Nothing is coming easily, especially for a case that is rarely happened. Additional efforts such as stubbornly waiting your 'fate god' for a straight 8 hours until his secretary hates you to the bone, advocating your very self, and arguing over a rigid university rules are considered as necessary. An optional stupidity as in torturing yourself to meet your 'fate god' when you're getting a feverish body surely counted. #grin

Yeah, I know I've succeeded in securing my seat in that university. But the thing about 'how many credits I can transfer there' remains vague, for now. (cont'd)

Wednesday, September 26, 2012

Welcome Back, Smack!

Someone ever said that, "You never know how precious something/someone is until you lose it/him/her'. That's exactly what I felt over these three weeks. Losing your 'powerful weapon' as in the walking stick for the blind one is more than agitating. Trust me.

my full of wound "Smack"** after two-week 'surgery' in S'pore #sobbing
**Oh, btw "Smack" is my 11.6" MBA's name. It means 'heroine'. Ha! Cool name, eh =p?

So, yeah...I've been abandoning this blog because Smack was being intensively cured abroad. Errr...alrite...alrite...that's quite a lame excuse. I actually have a back-up laptop. I was just too 'lazy' to use it. Imagine you have the most reliable-portable-fast laptop on earth (*did I sound like an A*ple fangirl #tongue?) and for a reason you must change it into the 'ordinary' laptop-everybody-has XD. Hahaha~ #alesanlagi