Nah, benar, kan? Belum apa-apa aku sudah kesasar. Setelah bertanya ke salah seorang petugas di stasiun, aku mendapatkan informasi bahwa ternyata untuk menuju ke UNS tidaklah rumit; both from “Solo Balapan” Station or “Solo-Jebres” Station will do. “Oooh, syukurlah nyasar kali ini tidak fatal”, ucapku lega. Karena ingin benar-benar ‘menikmati’ perjalanan a la traveler, aku menolak tawaran jemputan dari Iqbal. Oh please…aku (paling) tidak suka merepotkan orang lain. “Kalau bisa dijalani/dituntaskan sendiri, kenapa harus ngerepotin orang lain?”. “Kalau bisa memperingan dan mempermudah beban orang lain, kenapa tidak?”, that’s what I always thought. Jadilah aku memilih moda transportasi bus. For me, it’s more challenging than a pedicab. Yes, cukup membayar Rp. 2500,-, menikmati 15 menit perjalanan, dan gerbang melengkung UNS sudah tampak di kiri jalan. It’s stupidly easy.Friday, July 6, 2012
Solo Escape (part 2)
Nah, benar, kan? Belum apa-apa aku sudah kesasar. Setelah bertanya ke salah seorang petugas di stasiun, aku mendapatkan informasi bahwa ternyata untuk menuju ke UNS tidaklah rumit; both from “Solo Balapan” Station or “Solo-Jebres” Station will do. “Oooh, syukurlah nyasar kali ini tidak fatal”, ucapku lega. Karena ingin benar-benar ‘menikmati’ perjalanan a la traveler, aku menolak tawaran jemputan dari Iqbal. Oh please…aku (paling) tidak suka merepotkan orang lain. “Kalau bisa dijalani/dituntaskan sendiri, kenapa harus ngerepotin orang lain?”. “Kalau bisa memperingan dan mempermudah beban orang lain, kenapa tidak?”, that’s what I always thought. Jadilah aku memilih moda transportasi bus. For me, it’s more challenging than a pedicab. Yes, cukup membayar Rp. 2500,-, menikmati 15 menit perjalanan, dan gerbang melengkung UNS sudah tampak di kiri jalan. It’s stupidly easy.Wednesday, June 27, 2012
Solo Escape (part 1)
Dua minggu silam
“Mbak,
saya undang untuk ngisi talkshow di
Fakultas Pertanian UNS mau ya? Mbak Bunga masih di Indonesia, kan?”, begitu
kubaca pesan seseorang di inbox “Buku Muka”-ku. Kaget, -reaksi standarku saat
membaca pesan tak biasa tersebut. Merasa tertantang untuk menjinakkan “demam
panggung” dan sifat “malu-malu”-ku, tak sadar aku mengetikkan balasan “Okay,
De’!” kepada sang pengirim.
Sang
pengirim pesan itu tak lain dan tak bukan adalah Iqbal, adik Syarifah
(*Syarifah adalah nama asli “Ivo”, adik iparku). Iqbal adalah mahasiswa Ilmu
dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Kami memang baru sekali
bersua, dua tahun yang lalu saat pernikahan adikku dan kakaknya. Namun karena
berlatar belakang keilmuan yang sama, kami segera akrab. Walaupun sempat
bertanya-tanya mengenai alasannya mengundangku, pada akhirnya aku tak ambil
pusing. Aku hanya curiga Iqbal mendapatkan banyak informasi tentangku dan
aktivitas-aktivitasku di Taiwan dari kakaknya. Intinya, Iqbal mengundangku untuk
berbagi pengalaman berorganisasi dan kuliah di negeri naga kecil kepada
teman-teman muslim Fakultas Pertanian UNS. Thereafter,
my Solo Escape’s episode, began.
-----
Friday, June 15, 2012
Salahkah?
- Jadi ya, Nge’…si F itu adalah pria idaman dulu di SMP kami. Ganteng, primus (pria musholla), pandai. Wes…pokokmen jos-gandhos dan sangat prospektif dijadikan suami di masa datang! --> zaman SMP udah mikirin prospek-prospek beginian. BLOODY AWESOME =))!
- Tapi kenapa kesudahannya dia menikahi si R? Wanita yang sebelumnya sudah menikah sirri dengan si A dan sangat tidak “berkualitas” secara agama? Okay, si R memang enak dilihat ya. Tapi selain itu, blas ra mutu!
- Terus, kamu ingat si T, teman kita zaman S1? Gadis labil yang sering pakai-lepas kerudung geje itu? Aku baru tahu bahwa ternyata si A, lagi-lagi pria model si F yang sangat most-wanted di SMU-ku, menikahi si T! Hello, ada apa dengan pria-pria itu? Bukankah di Qur’an jelas-jelas tersurat “pria baik-baik itu untuk wanita baik-baik, vice versa”?
Percakapan “ringan” dengan sahabat-sahabatku itu tidak bisa tidak mengendap juga di benakku. Beberapa saat yang lalu, aku sempat membaca bahasan serupa terkait kandungan Q.S An-Nuur: 26 itu di Dakwatuna [ini]. Sejujurnya, aku juga “sebingung” salah seorang sahabatku (*yang sangat serius mengontemplasikan redaksional ayat tersebut) dalam menyimpulkan artikel bergaya bahasa non-ABC (Accurate Brief Clear) alias “muter-muter” itu. Namun, ini yang aku suka dari “kehidupan” seorang Muslim yang berniat tulus untuk belajar; Allah mudahkan untuk menemukan jawaban dan menyibak tabir keruhnya informasi. Allah itu extremely swag, bukan^^?!
Subscribe to:
Posts (Atom)
